Lingkungan & Ketahanan PanganPengetahuan
Sorgum di Lahan Kering: Potensi Besar, Batasan yang Perlu Diketahui
Sorgum dikenal sebagai tanaman yang tahan kering. Itu benar, tetapi bukan berarti kebal segala kondisi. Berikut gambaran yang lebih utuh dari berbagai sumber.
Oleh Tim SorghuminTerbit
Ketika kemarau panjang atau El Niño datang, sorgum sering disebut sebagai salah satu jawaban. Reputasi itu punya dasar. Namun supaya harapan tetap realistis, potensi dan batasannya perlu dilihat bersama.
Kenapa sorgum dianggap cocok untuk lahan kering
Materi Kementerian Pertanian menggambarkan sorgum sebagai tanaman semusim yang toleran kekeringan dan tidak banyak memerlukan air selama masa tumbuhnya. Indonesia juga punya lahan kering dan lahan marginal yang luas, dan Balitbangtan bersama BATAN telah melepas belasan varietas unggul sorgum untuk dikembangkan.
Pandangan serupa datang dari kajian internasional. Sebuah studi di jurnal Frontiers in Sustainable Food Systems (2023) menyebut sorgum relatif tangguh menghadapi panas, kekeringan, bahkan genangan. Di Sudan, FAO mencatat sorgum sebagai pangan pokok terpenting di wilayah semi-kering.
Batasan yang sering terlupakan
Tahan bukan berarti kebal. Penulis studi yang sama mengingatkan bahwa ketahanan sorgum tidak mutlak. Kekeringan berat pada fase tumbuh yang penting tetap bisa menurunkan hasil.
Tidak selalu jauh lebih unggul dari jagung. Dalam sebuah konferensi FAO tentang Mozambik, para peserta menyimpulkan bahwa sorgum hanya sedikit lebih tahan kering dibanding jagung, sehingga tidak otomatis menjadi pengganti ideal di setiap wilayah semi-kering.
Hasil panen sangat bergantung pada budidaya. Sumber Kementerian Pertanian mencatat produktivitas varietas lokal di NTT masih rendah, sekitar 1 ton per hektare. Varietas unggul dan cara budidaya yang tepat menjadi kunci untuk meningkatkannya.
Teknologi perlu benar-benar dipakai. Pengalaman di Afrika Barat dan Tengah menunjukkan varietas unggul sorgum pernah hanya ditanam di sebagian kecil lahan. Artinya, benih yang baik saja tidak cukup tanpa pendampingan, akses benih, dan pasar.
Lalu, apa artinya bagi kita?
Sorgum layak mendapat tempat dalam sistem pangan yang lebih tahan iklim, terutama di daerah kering. Namun sorgum bekerja paling baik sebagai bagian dari keragaman pangan, bukan pengganti tunggal semua tanaman lain. Rantai yang lengkap juga dibutuhkan: dari benih, budidaya, pengolahan, sampai pembeli yang mau memasaknya di rumah.
Ingin tahu kenapa ragam pangan penting? Baca Diversifikasi Pangan.
Sumber referensi
- Kementerian Pertanian, Direktorat Serealia: bahan pengembangan sorgum (2021)
- Repositori Kementerian Pertanian: kajian sorgum di lahan kering NTT
- Frontiers in Sustainable Food Systems (2023): sorghum and climate resilience
- FAO Regional Office for Near East and North Africa: Sudan sorghum joins the FAO OCOP initiative
- The New Humanitarian: laporan konferensi FAO tentang sorgum di Mozambik
- Evans School (University of Washington, 2010): Adoption of Improved Sorghum and Millet Cultivars in Sub-Saharan Africa
Bagikan
