Skip to content

This article is available in Bahasa Indonesia.

Culture & Regional CollaborationKnowledge

Banyak Nama, Satu Tanaman: Sorgum dalam Budaya Pangan NTT

Jagung rote, jagung sabu, wata blolong: di Nusa Tenggara Timur, sorgum punya banyak nama. Setiap nama menyimpan cerita tentang tempat, bahasa, dan cara hidup.

By Tim SorghuminPublished

Perbukitan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, diterpa cahaya sore
Illustrative photo · Fadhil Abhimantra / Unsplash

Di banyak tempat di Indonesia, sorgum terdengar seperti bahan pangan baru. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), ceritanya berbeda. Tanaman ini sudah lama tumbuh di ladang-ladang kering dan dikenal dengan nama yang berbeda di setiap pulau.

Satu tanaman, banyak sebutan

Berdasarkan liputan media lingkungan Mongabay Indonesia, beberapa sebutan lokal untuk sorgum di NTT antara lain:

  • Jagung rote, sebutan orang Rote.
  • Jagung sabu, sebutan di Sabu.
  • Benwuka atau bennina, sebutan di kalangan orang Timor.
  • Lolo, sebutan di Ende.
  • Wata blolong, nama yang dikenal luas di Flores Timur, termasuk oleh masyarakat Lamaholot.

Banyaknya nama ini menunjukkan bahwa sorgum tidak datang dari satu arah saja. Ia sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari banyak komunitas. Perlu dicatat, satu nama lokal belum tentu merujuk pada satu varietas yang sama.

Tumbuh di lahan kering, hidup dalam budaya

Sorgum tersebar di banyak daerah lahan kering di NTT dan sudah lama dikonsumsi masyarakat setempat. Di beberapa desa, hubungan dengan sorgum juga terlihat dalam tradisi. Di Likotuden, Flores Timur, misalnya, petani diberitakan masih menjalankan ritual adat ketika ladang diserang hama.

Para penggiat di Flores Timur juga menekankan hal yang sama: menghidupkan kembali sorgum perlu dimulai dari budaya dan adat, bukan hanya dari benih dan teknologi. Ketika sebuah sumber pangan hilang, pengetahuan dan kebiasaan yang menyertainya ikut terancam hilang.

Kenapa nama lokal perlu dijaga

Nama lokal adalah pintu masuk ke pengetahuan lokal: kapan menanam, cara mengolah, dan makna sebuah tanaman bagi masyarakatnya. Menjaga nama-nama ini berarti ikut menjaga warisan pangan Nusantara.

Ingin melihat bagaimana sorgum hadir di dapur masa kini? Mulailah dari panduan memasak sorgum di rumah.

References

  1. Mongabay Indonesia (2016): Sukses Kembangkan Sorgum di NTT, Maria Akui Jatuh Cinta pada Rasa Pertama
  2. Mongabay Indonesia (2023): Jejak Sorgum di NTT dan Penanaman Kembali oleh Petani
  3. Mongabay Indonesia (2020): Bonifasius Soge, Lelaki Muda Penggerak Sentra Sorgum Likotuden
  4. Mongabay Indonesia (2019): Mahasiswa Amerika Datang ke Witihama, Apa yang Dicarinya?

Share

Related stories

Have a Story or a Collaboration Idea?

Tell the Sorghumin team about your activity, community, or collaboration idea.